
Gambar adalah ilustrasi AI
Oleh:
Bukhori Abdul Manaf (PRM Palur Utara)
Pernah ada
masa di mana lorong-lorong kelas ini terasa sunyi, hampir-hampir senyap.
Bayangkan, dalam satu ruang kelas hanya ada enam atau tujuh pasang mata siswa
yang menatap kosong. Saat itu, wacana kolaps bukan lagi sekadar isu, melainkan
kenyataan pahit yang ada di depan mata. Masyarakat mulai bertanya-tanya,
"Sampai kapan sekolah ini mampu bertahan?"
Namun, di
tengah keputusasaan, Allah menggerakkan hati-hati muda yang awalnya hanya
sering berkumpul di masjid. Simpati itu berubah menjadi api semangat. Mereka
sadar, tidak ada kata terlambat untuk menyelamatkan aset umat.
Dimulailah
sebuah "petualangan perjuangan" yang luar biasa. Dengan kerendahan
hati, para penggerak muda ini bersatu dengan para sesepuh pengurus. Atas restu
para sesepuh yang penuh kearifan, pimpinan sekolah dan para guru duduk
melingkar, menyatukan detak jantung dalam satu visi dan misi yang baru. Mereka
sepakat untuk melakukan re-branding total melalui langkah-langkah strategis:
Merger. MI dan SD Muhammadiyah yang tadinya berjalan sendiri-sendiri,
disatukan. Tujuannya hanya satu: menyatukan energi agar tidak ada kekuatan yang
terbuang percuma.
Gebrakan
tidak berhenti di sana. Formasi pendidik diperkuat oleh guru-guru muda yang
membawa nafas kreativitas dan inovasi tanpa batas. Mereka tidak hanya mengajar,
mereka berjuang di dalam sistem.
Salah satu
kunci suksesnya adalah komunikasi. Para "juragan" dan pengusaha lokal
yang selama ini bergerak sendiri-sendiri, dirangkul kembali. Potensi besar yang
tadinya berserakan kini disatukan dalam satu barisan perjuangan. Semuanya
disosialisasikan dengan satu identitas baru yang membanggakan: Sekolah Islam
Berkemajuan.
Kini,
pertanyaan masyarakat yang dulu tak terjawab, telah sirna diganti dengan decak
kagum. Dari kelas yang nyaris kosong, menjadi sekolah yang penuh dengan harapan
dan masa depan.
Editor:
Choerul Anam