
Semua berawal dari pertanyaanku pada Rabbku. Disaat mendengar kabar bahwa saudara kembarku mendapatkan hadiah Umroh ke tanah suci Mekkah dari sebuah perusahaan semen. Saat itu dia hanya memasukkan sebuah kupon dari pembelian semen untuk memperbaiki rumah kedua orangtua kami yang sudah banyak kerusakan disana sini, dia ingin menunaikan janjinya kepada ibu untuk memperbaiki rumah tersebut. Qodarullah disaat rumah sudah diperbaiki ternyata Alloh Ta'ala memanggil Ibu kami untuk kembali kepada-Nya lantaran memang sudah sakit parah.
Ya, Alloh atas ketaatan saudara kembarku terhadap ibu, engkau panggil ia kerumah-Mu. Kapan Ya, Alloh Engkau memanggilku ke rumah-Mu (Baitullah Makkah)? Bertahun sudah aku menanti dengan perasaan tak pasti, secara akal nggak mungkinlah, karena aku hanyalah seorang guru swasta di sebuah Yayasan Muhammadiyah dengan gaji yang cukup untuk kebutuhan sehari hari, untuk biaya sekolah dua anakkupun aku masih harus mencari uang tambahan sebagai guru les.
Ketika terkadang rasa lelah muncul, teringat lah aku akan pesan Ayahku yang sudah lebih dulu menghadap Alloh Ta'ala karena sakit liver yang beliau derita. "Kamu jangan berhenti jadi guru teruslah berbagi ilmu dengan anak anak", pesan yang selalu aku ingat. Aku tidak tahu apa dibalik pesan itu. Ternyata setelah sekian tahun lamanya aku baru menyadari bahwa dibalik semua pesan itu, dengan itulah cara Alloh Ta'ala memanggilku ke Baitullah Makkah.
Alhamdulillah, pada sebuah workshop Guru guru SD Muhammadiyah Palur di aula Masjid Madaniyah Karanganyar, namaku disebut mendapatkan reward tiket Umroh selama 9 hari melalui travel Zam zam tour Sukoharjo. Aku dan satu temanku diberangkatkan tanggal 20 Januari 2024.
Aku bertanya pada suami, "Pak, bagaimana apakah kamu mengijinkanku untuk pergi sendiri Umroh, sedangkan kalau mau berangkat berdua uangnya belum cukup untuk biaya umroh njenengan?". Perasaan dan jantungku berdebar menunggu jawab suamiku, "Aku ijinkan kamu berangkat, berangkatlah." "Aku tak punya mahrom di sana, kan ini jarak safar."
Beberapa waktu kemudian aku mendengar teman guru yang tak lain adalah saudara iparku sendiri, berencana akan bersama suaminya untuk pergi umroh. Alhamdulillah hatiku begitu lega mendengarnya. Sehari sebelum keberangkatan suamiku menitipkanku kepada temanku dan suaminya untuk menjalankan umroh ke tanah suci Mekkah.
Tibalah saatnya keberangkatan, kami harus berkumpul di kantor Zam Zam tour hari Sabtu, 20 Januari jam 03:00 dini hari. Qodarullah aku tidak bisa datang tepat waktu. Sudah 2 kali aku bolak balik ke rumah gara gara charger hpku ketinggalan, ditengah keberangkatan menuju Sukoharjo kota, jantungku berdetak kencang seperti ada yang mengingatkanku akan sebendel kunci koperku. Ya, Alloh ternyata setelah aku check kunci kunci tersebut tidak ada di dompetku. Aku merasa sangat bersalah pada suami. "Ma'af ya, Pak, kunciku ketinggalan." Waktu terus berjalan, akhirnya saudara kembarku harus putar balik dengan mobilnya mengantarku kembali pulang ambil kunci. Alhamdulillah kunci bisa aku ambil dan kumasukkan ke dalam dompetku. Kamipun melanjutkan perjalanan menuju Sukoharjo kota melalui jalur Solo.
Sepanjang perjalanan, suamiku berpesan 3 hal penting untuk selalu aku ingat dan lakukan selama menjalankan ibadah di Kota Madinah dan kota Mekkah, air mataku berlinang, menyesali akan segala kesalahanku. Alhamdulillah, terdengarlah Adzan subuh, kami tepat tiba di kantor Zam Zam tour jam 04:05 WIB. Aku langsung menuju lantai 2, aku dipersilahkan sarapan semangkok soto dan segelas teh hangat. Lanjut sholat subuh berjamaah.
Seusai sholat subuh, kudekap putri sulungku dan ketepuk bahunya, "Jaga adik ya, Mbak!" begitupula dengan anak laki lakiku yang terasa dingin jari jemarinya ku pegang erat dan kubusikkan ketelinganya,"yang tertib ya, Mas! Ibu berangkat.” Aku beserta rombongan bersiap siap menuju bus. Aku cium tangan saudara kembarku dan suamiku sebagai tanda perpisahan sementara. Lambaian tanganku untuk mereka dibalik jendela bus yang membawaku beserta rombongan menuju bandara Adi Soemarmo. Alhamdulillah proses pengecekan di bandara cukup berjalan lancar hanya sedikit kendala terkait komputer pengecekan yang belum terhubung dengan saluran listrik. Penerbangan berjalan lancar sesuai skedul dari solo menuju Jeddah.
Untuk pertama kali aku beserta rombongan menuju kota Madinah, kami tinggal di hotel grand plaza yang jaraknya tidak jauh dari Masjid Nabawi. Alhamdulillah, sebuah kenikmatan yang luar biasa sehingga kami bisa dengan mudah pulang pergi menjalankan ibadah sholat lima waktu di Masjid Nabiullah Muhammad shalallahu alaihi wassalam ini. Aku, saudara iparku dan 2 orang nenek usia 70 tahunan tinggal satu kamar lt.10 no.11. Sesuai pesan suamiku apapun yang diberikan padamu maka syukurilah, fokuslah dalam ibadah. Aku sendiri berusaha menganggap 2 nenek tua itu serasa ibuku sendiri, nenek bagi kedua anakku.
Disela sela ibadah kami sering bercanda, satu diantaranya, "Mbok kui nggo tombok, Mbah nggo tambah." Gelak tawa menyeruak di dalam kamar kecil hotel itu. Itu menjadi kenangan tersendiri bagi diriku. Namanya orang yang sudah tua itu banyak perlu dituntun dan digandeng kalau hendak bepergian, mulai dari naik lift, escalator hingga cara membuka kran toilet. Memberi warna tersendiri dalam kehidupanku selama menjalankan ibadah umroh. Membersamai mereka bukanlah hal yang menyulitkanku untuk menjalankan ibadah, justru sebaliknya Alloh Ta'ala memberikan banyak kemudahan bagi diriku mulai dari sholat, berdoa di Raudhah saat di Madinah hingga menjalankan puncak kegiatan umroh berupa thowaf, sa'i hingga Alloh mudahkan bagi diriku memegang hajar Aswad di akhir setelah menjalankan thowaf wada'.
Rasa syukurku tak pernah habis habisnya aku rasakan, bagaimana tidak ? Banyak sekali nikmat yang Alloh Ta'ala curahkan untukku yang tak mungkin lagi aku bisa mengingkari kebesaran dan kemaha murahan Nya. Satu hal yang terlihat begitu nyata adalah ketika seharusnya secara siklus haid aku tidak bisa menjalankan thowaf maupun sa'i tapi atas kehendak Alloh, Alloh tunda menstruasiku tanpa aku harus meminum obat penunda haid . Allah lebih berhak atas hamba-Nya. Aku sampaikan semua akan lemahnya diri ini, secara riwayat kondisi tubuhku memang tidak baik kalau harus minum obat penunda haid karena pernah mengalami herpes saat kehamilan anak pertamaku.
Belum lagi masih banyak lagi nikmat yang lainnya yang Alloh titipkan melalui keluarga besar SD Muhammadiyah Palur, baik guru, karyawan maupun orang tua wali murid dan anak anak didikku, keluarga besarku, kru Zam ZAM tour, muthowif yang selalu support begitu juga rekan rekan jamaah umroh yang baik dan periang yang selalu solid disetiap agenda peribadahan.
Jazakumullah Khairan Katsir teruntuk kalian, Alloh telah kumpulkan kita didunia dalam kebaikan semoga Alloh pertemukan kita kembali di Jannah -Nya.
Rabbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah wafilaakhirati hasanatan waqinaa adzaabannar
Lukisan Hati Wahyuti