
Oleh: Febry Uswatun Kasanah, S.Pd. (Guru Bhs Inggris)
Saat sebagian orang masih terlelap dalam mimpi, seorang perempuan telah terbangun dari tidurnya.
Jam belum menunjukkan pukul empat pagi.
Dalam sunyi dan dinginnya udara, ia membuka mata. Tidak ada alarm yang perlu berkali-kali berbunyi. Sebab seorang ibu seolah memiliki alarm yang tumbuh di dalam hatinya, sebuah tanggung jawab yang selalu membangunkannya sebelum dunia benar-benar terjaga.
Ia melangkah menuju dapur.
Air mulai dimasak. Beras dicuci. Lauk disiapkan. Bekal anak-anak dipersiapkan dengan penuh perhatian. Sesekali ia melihat jam, memastikan semuanya selesai tepat waktu.
Di sela-sela kesibukan itu, ia menyempatkan diri menunaikan ibadah Subuh.
Dalam doa yang lirih, ia menitipkan keluarganya kepada Tuhan.
"Ya Allah, kuatkan langkahku hari ini. Berikan kesehatan untuk keluargaku. Jadikan ilmuku bermanfaat dan jadikan aku guru yang mampu menjadi jalan kebaikan bagi anak-anak didikku."
Selesai berdoa, perjuangannya belum selesai.
Ia kembali ke dapur, menyiapkan sarapan. Kemudian membangunkan anak-anak.
“Bangun, Nak. Sudah pagi. Kita harus bersiap.”
Ada anak yang langsung bangun, ada pula yang masih ingin menarik selimut. Dengan sabar, ia membujuk dan membantu mereka bersiap.
Ia memastikan seragam rapi, rambut tersisir, perlengkapan sekolah lengkap, dan bekal sudah masuk ke dalam tas.
Sementara anak-anaknya berangkat ke sekolah, ia pun bersiap menuju sekolah tempat ia mengabdikan diri.
Di depan cermin, ia merapikan pakaian dan kerudungnya. Wajahnya mungkin terlihat sedikit lelah karena kurang tidur. Namun, ia memberikan senyum kepada dirinya sendiri.
"Hari ini aku harus kuat. Banyak anak yang menungguku."
Pukul enam pagi, ia berangkat.
Jalanan mulai ramai. Kendaraan berlalu-lalang. Ada yang terburu-buru mengejar waktu, ada yang mengantar anak sekolah, dan ada pula para pekerja yang memulai aktivitasnya.
Namun, di balik ramainya jalanan itu, ada seorang ibu pendidik yang membawa lebih dari sekadar tas kerja.
Ia membawa harapan.
Ia membawa tanggung jawab.
Dan ia membawa doa dari rumah.
Sesampainya di sekolah, ia tidak langsung duduk santai.
Ia mempersiapkan kelas. Membuka buku pelajaran, menyiapkan media pembelajaran, memeriksa tugas, dan memastikan segala sesuatu siap sebelum anak-anak masuk.
Tak lama kemudian terdengar suara riang.