Guruku, Jangan Bandingkan Aku

Gambar ilustrasi AI

Oleh: Assifa Fadila, S.Pd. (Wali Kelas 5C)

Hari ini, saat aku membagikan hasil lembar kerja mereka di meja satu per satu, aku melihat kilat cemas di mata seorang anak di sudut barisan belakang. Ia menatap kertasnya sekilas, lalu buru-buru menutupinya dengan buku tulis, seolah takut teman di sebelahnya melihat angka atau coretan di sana. Pemandangan itu selalu berhasil meremas hatiku. 

Sebagai guru yang berdiri di depan kelas, sering kali tanpa sengaja kita melontarkan kalimat perbandingan yang kita anggap sebagai bentuk motivasi

"Coba lihat temanmu itu, sudah selesai dan nilainya bagus" tanpa pernah tahu bahwa di dalam dada anak-anak kita, kalimat itu justru terasa seperti vonis yang melemahkan semangat hidup mereka. Padahal, jika mau sedikit meluangkan waktu untuk merenung, kami di ruang kelas ini tidak pernah datang dari rahim semesta yang sama. Ada anak yang langsung ceria dan paham begitu lembar soal dibagikan, ada yang butuh waktu lebih lama untuk mencerna kalimat demi kalimat, dan ada pula yang harus meraba benda nyatanya terlebih dahulu sebelum otaknya bisa merangkai jawaban. 

Ketika aku menuntut mereka untuk berlari di garis start yang sama dan dengan kecepatan yang persis seragam, aku sedang melakukan ketidakadilan yang membunuh keunikan mereka. Anak-anak ini tidak sedang berkompetisi dalam perlombaan lari cepat antarbangsa; mereka sedang belajar mengenali potensi diri mereka sendiri di bawah bimbinganku. 

Sebagai orang dewasa yang dipercaya mendampingi hari-hari mereka di sekolah, tugas utamaku seharusnya bukan mencetak mereka menjadi seragam, melainkan merayakan setiap jengkal kemajuan kecil yang mereka buat dengan keringat mereka sendiri. Ketika seorang anak yang biasanya menyerah tiba-tiba mau menulis satu kalimat utuh hari ini, itu adalah sebuah kemenangan besar yang jauh lebih bernilai daripada sekadar angka sepuluh milik anak lain yang mendapatkannya dengan mudah. 

Sudah saatnya aku berhenti membanding-bandingkan mereka, karena setiap anak memiliki waktu, cara, dan keindahannya masing-masing untuk mekar. Tugasku sederhana: cukup temani prosesnya, hargai usahanya, dan biarkan mereka tumbuh tanpa rasa takut karena merasa tertinggal.

SHARE :
Family Run 2026
LINK TERKAIT