
Oleh: Bukhori Abdul Manaf (PRM Palur Utara)
Menengok dua dekade silam rasanya seperti melintasi sebuah mimpi yang panjang. Kala itu, dua sekolah yang berdiri di satu atap ini memikul beban sejarah yang tak ringan. Terhimpit oleh citra miring dan dipandang sebelah mata oleh masyarakat, sekolah ini seolah berjalan di lorong gelap tanpa ujung.
Namun, di titik itulah keyakinan berbicara: menyerah bukanlah pilihan. Perjalanan panjang yang menguras peluh pun dimulai. Sebuah ikhtiar kolektif yang mengharukan: para guru yang tak kenal lelah menyusuri sudut jalan demi memasang pamflet, hingga para pengurus yang turun tangan langsung "menjemput bola"—mengantar-jemput siswa menggunakan mobil pribadi mereka sendiri. Tak ketinggalan, napas perjuangan ini diperkuat oleh para pemuda Korps Muballigh Muhammadiyah (KMM) yang menyisipkan benih-benih harapan di setiap mimbar pengajian.
Kini, buah dari kesabaran itu tumbuh rimbun bak jamur di musim penghujan. Allah akhirnya menyingkap rahasia di balik setiap lelah yang dikerjakan dengan ikhlas. Ketidakpercayaan yang dulu menghujam, kini berganti menjadi decak kagum. Masyarakat mulai bertanya-tanya, bagaimana mungkin perubahan sebesar ini terjadi?
Mereka kini menyaksikan sebuah "anomali" yang meneduhkan: sebuah lembaga pendidikan Islam dengan kualitas unggul yang tetap merangkul semua lapisan. Sekolah ini bukan sekadar tempat menitipkan anak agar cerdas secara intelektual, melainkan kawah candradimuka bagi pembentukan karakter. Letaknya yang strategis, dipadu dengan fasilitas modern, menjadikannya magnet dan pilihan utama di hati masyarakat.
Bagi orang tua yang berjuang di dunia kerja hingga larut malam, sekolah ini hadir sebagai pelabuhan ketenangan. Ada rasa damai yang merasuk saat menyadari anak-anak mereka mendapatkan bimbingan spiritual dan moral yang mungkin tak sempat mereka berikan secara penuh di rumah. Semua kemajuan ini adalah monumen hidup dari dedikasi tanpa batas dan loyalitas para guru karyawan terhadap persyarikatan.
Sungguh, jika Allah sudah berkehendak dan tangan-tangan ikhlas telah bergerak, tak ada satu pun kemustahilan yang tidak menjadi nyata.
Editor: Choerul Anam